| hibridge.ca |
Apa yang membedakan investor institusi dengan investor
ritel? Besarnya jumlah dana yang diinvestasikan. Benar, investor institusi
pasti memiliki dana lebih banyak ketimbang investor ritel atau individu.
Namun, apa cuma itu yang membedakan? Tidak juga. Dari
sisi keberhasilan berinvestasi, belum tentu hasil investasi yang diperoleh
investor institusi bisa lebih baik daripada investor ritel. Sebut saja, dana
pensiun. Lembaga ini setiap tahun paling banter hanya memberikan imbal hasil
sedikit di atas bunga deposito. Sementara investor individu ada yang mampu
menghasilkan double digit return atau bahkan lebih.
Pertanyaannya, apakah investor institusi tidak mampu
menghasilkan return yang besar? Salah kalau beranggapan demikian.
Investasi sejatinya memang memiliki pakem, yakni high risk high return.
Risiko yang mesti dimitigasi investor individu sangat berbeda dengan risiko
institusi. Itu karena lembaga seperti dana pensiun mengelola dana dari ratusan
ribu atau bahkan jutaan orang. Sedikit saja keliru, dampaknya akan menerpa
semua peserta dana pensiun tersebut. Sementara kalau investor individu terkena
risiko gagal, yang menanggung hanya diri sendiri dan keluarganya.
Selain itu, investor institusi lazimnya memiliki horizon
investasi menengah panjang. Jadi, yang dijadikan target bukanlah keuntungan
maksimal, melainkan optimal dan berkelanjutan. Ini juga yang membedakan dengan
investor individu yang bisa saja keuntungan investasinya naik turun tanpa
kepastian.
Lepas dari itu, ada hal yang menarik dicermati pada
investor institusi, khususnya yang sudah profesional dan berusia lama. Apa itu?
Mereka memiliki tata kelola dalam melaksanakan investasinya. Tata kelola itu
bahkan menjadi suatu sistem dan prosedur yang mesti ditaati. Itu sebabnya,
kendati pengurus lembaga dana pensiun berganti, investasinya bisa berjalan
dengan baik. Bahkan semakin baik jika pengurusnya andal.
Oleh karena itu, jika Anda menginginkan investasi Anda
tumbuh berkembang secara berkelanjutan, tidak ada salahnya juga menyiapkan tata
kelola investasi pribadi yang bentuknya bisa mengadopsi format investor
institusi. Seperti apa?
Secara sederhana, investor institusi memiliki hal-hal
yang boleh dan tidak boleh. Kemudian, mereka juga memiliki mekanisme
pengambilan keputusan yang berdasarkan obyektivitas dengan melibatkan beberapa
unit. Semua itu dituangkan dalam peraturan tertulis yang mesti ditaati. Jadi,
kendati hasil investasinya mungkin bagus, jika dilakukan dengan tidak mengindahkan
aturan yang ada, akan dianggap sebagai pelanggaran.
Dengan kata lain, hasil yang baik mesti diraih dengan
proses yang baik juga. Itu prinsipnya. Nah, dalam kaitannya dengan investor
individu, tidak jarang terjadi seorang investor menjadi serakah, misalnya,
karena tidak memiliki pegangan dalam berinvestasi. Oleh karena itu, sebaiknya
harus ada juga mekanisme kontrol, yang bisa dibuat dalam bentuk do and
don’t juga.
Batasan investasi
Pertama, upayakan untuk membuat batasan-batasan
investasi. Artinya, dana yang hendak Anda investasikan hanya akan dibenamkan
dalam instrumen investasi tertentu. Sebaiknya tidak membebaskan diri Anda untuk
berinvestasi di semua bidang. Di dunia ini hampir tidak ada orang sukses dalam
segala hal. Umumnya hanya berhasil dalam beberapa bidang. Kenapa? Itu karena
kompetensi dan karakter pribadi seseorang juga terbatas. Demikian juga dengan
investasi. Dengan karakteristik instrumen investasi yang berbeda, tentunya
mesti disesuaikan dengan karakter pribadi investor. Oleh karena itu, pilihlah
beberapa instrumen investasi yang secara kompetensi dikuasai dan secara
karakteristik sesuai dengan personality Anda. Dengan kata lain, harus
dibatasi, apakah investasi di sektor riil atau di pasar modal. Kalaupun
digabung, sebaiknya ditentukan jenis investasinya. Fokus akan lebih baik.
Konkretnya, jika Anda masuk ke sektor riil, pilih satu
saja. Misalnya properti. Atau kalau mau berbisnis warung sate, jangan dicampur
dengan bisnis salon atau laundry atau pencucian mobil. Jika terlalu
banyak yang Anda masuki, dipastikan Anda tidak akan fokus. Demikian juga dengan
investasi di pasar modal, apakah Anda ingin masuk juga ke instrumen derivatif
atau hanya instrumen investasi dasar, seperti saham, obligasi, dan reksa dana.
Semuanya terserah Anda. Namun, investor institusi saja membuat batasan, baik
itu instrumen investasi yang boleh dimasuki dan lebih jauh lagi, persentase
dari dana investasi yang boleh ditanamkan dalam instrumen tersebut. Misalnya,
20 persen di saham, 10 persen di reksa dana, 30 persen di obligasi, 20 persen
di deposito, dan sisanya 20 persen di properti.
Batasan target
Kedua, membuat batasan target hasil investasi dari semua
investasi Anda dan kemudian dari setiap instrumen yang Anda pilih. Ini penting
untuk mencegah keserakahan dan salah persepsi dalam melihat hasil investasi.
Keuntungan hasil investasi sudah tergolong hebat jika bisa mencapai dua kali
tingkat rata-rata bunga deposito pada tiap tahunnya. Artinya, jika bunga
deposito mencapai 7 persen per tahun, target hasil investasi 14 persen
merupakan target yang moderat. Dan selanjutnya pada setiap instrumen investasi
ditentukan targetnya, misalnya 9 persen di obligasi, 12 persen di reksa dana,
dan 20 persen di saham. Dengan alokasi dana tertentu jika dirata-ratakan secara
tertimbang, target investasi Anda akan berada di kisaran 14 persen per tahun.
Kriteria lembaga
Ketiga, menentukan kriteria lembaga tempat Anda
berinvestasi, apakah itu perbankan untuk deposito berjangka, sekuritas untuk
saham dan obligasi, serta lembaga manajemen investasi untuk reksa dana yang
akan Anda beli. Investor institusi biasanya melakukan pemeringkatan terhadap
semua pelaku di sektor keuangan yang menjalankan peran sebagai pengelola dana investasi.
Bank-bank diperingkatkan dan kemudian dimasukkan dalam
kelompok-kelompok berdasarkan aset dan tingkat kesehatannya. Tentu investor
ritel agak sulit melakukan hal tersebut. Untuk itu, pakai saja cara yang mudah,
yakni menempatkan bank-bank beraset besar dan memiliki kinerja baik sebagai
bank kategori utama. Tempatkan deposito hanya di bank-bank yang masuk dalam
kategori tersebut. Demikian juga dengan sekuritas. Sekuritas yang memiliki
modal besar dan sudah beroperasi dalam kurun waktu yang lama biasanya akan
lebih baik dibandingkan dengan sekuritas baru.
Begitu juga hal yang sama untuk manajemen investasi.
Semakin besar dana yang dikelola menunjukkan lembaga tersebut semakin
dipercaya. Nah, Anda bisa memilih lembaga-lembaga yang mana yang bisa dimasukkan
dalam daftar tempat Anda menempatkan dana Anda. Setelah daftar itu, baru
kemudian berikutnya menelisik kinerja produk-produk yang ditawarkan. Dengan
cara ini, Anda akan terhindar dari kisah ”membeli kucing dalam karung”. Selamat
berinvestasi.
Sumber: koran kompas
Oleh: ELVYN G MASASSYA