Pages

Mengenal Lebih Dekat Portofolio

Portofolio adalah pengelolaan aset finansial minimum dua jenis. Jika seseorang mempunyai dana yang diinvestasikan pada dua saham sejenis, seperti pada saham Ciputra Development dan Jaya Real Property, dia sudah termasuk mengelola portofolio.
Dalam pengelolaan portofolio dikenal dua jenis. Pertama, portofolio antarinstrumen investasi atau aset finansial (between portfolio). Kedua, portofolio di dalam instrumen investasi (within portfolio). Jika pembahasan pada portofolio di antara (between portfolio), pemilik portofolio memiliki jenis aset finansial atau aset riil.

Manurung (2008) menyatakan bahwa aset finansial yang dapat diinvestasikan dan memiliki tingkat pengembalian ialah rekening koran, tabungan, deposito berjangka, negotiable certificate deposits (NCD), commercial papers(CPs), promissory notes (PN), REPOs, medium term notes (MTN), obligasi, obligasi konversi (convertible bonds), obligasi tukar (exchangeable bonds), reksa dana, exchange traded fund (ETF), DIRE (Dana Investasi Real Estat), efek beragun aset (EBA), saham dan produk berjangka komoditas dan finansial.

Produk tersebut bisa dikelompokkan menjadi produk tabungan, investasi, dan spekulasi. Ada juga produk lain yang dikenal dengan gambling (judi). Jika dikelompokkan berdasarkan risiko, risiko tabungan lebih kecil dari bentuk investasi dan risiko investasi lebih kecil dari risiko spekulasi serta risiko spekulasi lebih kecil dari perjudian (gambling). Oleh karena itu, investor harus memiliki dua dari beberapa instrumen investasi dan salah satunya properti dan komoditas yang sekarang ini menjadi bentuk investasi, yaitu emas serta bentuk barang berharga lain termasuk valuta asing.

Jika pemilik dana hanya mempunyai tabungan tetapi tabungannya sangat beragam berdasarkan bank, pemilik dana sudah memiliki portofolio. Jika memiliki deposito dengan berbagai variasi waktu (bulanan, triwulanan, semianual, dan tahunan) dan beberapa bank, juga sudah dikatakan portofolio. Jika investor mempunyai properti, portofolio pemilik dana bisa dilihat dari jenis properti dan lokasi properti tersebut.

Bagi investor yang mempunyai portofolio properti, pemilik dana harus memiliki beberapa properti yang berbeda dan strategis lokasinya. Jenis properti yang ada di pasar sekarang ini ialah rumah, ruko, resor, apartemen, kondominium, town house, mal, hotel, perkantoran, pergudangan, dan sebagainya. Dalam pengelolaan portofolio properti ini, pemilik dana harus menggabungkan jenis properti dengan lokasi. Tidak mungkin pergudangan dibuat di pegunungan, tetapi yang paling cocok adalah resor atau bungalo atau hotel dan perumahan. Pergudangan sangat cocok dibangun dengan pelabuhan dan mal dibangun di perkotaan.

Diversifikasi risiko
Tujuan utama dari pemilik dana untuk melakukan portofolio ialah melakukan diversifikasi risiko (Markowitz, 1952). Diversifikasi risiko dimaksudkan mengurangi risiko atas portofolio yang dikelolanya. Jika memiliki satu aset investasi, risiko yang dimiliki sebesar risiko dari aset tersebut. Jika pemilik dana memiliki dua aset investasi, risikonya akan lebih kecil dibandingkan dengan satu aset finansial.

Jika jumlah aset investasi semakin besar, risiko yang akan diterima akan semakin kecil sehingga hubungan risiko dengan jumlah dikatakan berkorelasi negatif. Jika pemilik dana melakukan investasi pada saham, semakin besar saham yang dimiliki, risiko semakin kecil. Paling kecil sebesar risiko pasar ketika jumlah saham yang dimiliki sama banyaknya dengan jumlah saham yang terdaftar di bursa saham.

Evan dan Archer (1968) yang melakukan penelitian untuk kasus saham di Amerika Serikat memberikan kesimpulan bahwa pemilik dana yang melakukan investasi akan merasakan risiko drop tajam jika saham sampai 10 saham dan selanjutnya risiko tersebut berkurang cukup kecil jika jumlah saham ditingkatkan. Manurung (1996) menyatakan bahwa fund manager di Indonesia hanya maksimum memiliki saham sebanyak 30 saham karena penambahan saham berikutnya tidak memberikan kontribusi pengurangan risiko yang signifikan.

Pada sisi lain, portofolio yang dibentuk pemilik dana bukan untuk menaikkan tingkat pengembalian yang diharapkan. Seperti diketahui, pemilik dana selalu mempunyai karakteristik risiko yang rendah dengan tingkat pengembalian yang tinggi. Padahal, ada pemeo lain: risiko tinggi, tingkat pengembalian juga tinggi (high risk high return). Strong (2003) menyatakan bahwa fokus dari pengelolaan portofolio (portfolio management) ialah pengurangan risiko, bukan peningkatan tingkat pengembalian (return).

Selanjutnya, agar terjadi risiko yang kecil, diperlukan hubungan antaraset dalam portofolio yang harus memiliki korelasi negatif (Markowitz, 1952). Jika aset investasi tersebut mempunyai korelasi positif, risiko portofolio akan mengalami kenaikan dari satu aset yang berisiko kecil ke aset satu lagi yang memiliki risiko cukup tinggi. Salah satu bentuk portofolio yang mempunyai risiko semakin kecil ialah investor memiliki aset properti (termasuk sahamnya) dengan saham perbankan.

Jika pemerintah menaikkan tingkat bunga, saham perbankan akan mengalami kenaikan, sedangkan saham properti akan mengalami penurunan. Akibatnya, biaya bunga bank dari aset properti tersebut meningkat.

Oleh: ADLER H.M. 
Koran Kompas