Bagaimana wujud
rasionalitas dan juga irasionalitas yang sebaiknya menjadi perhatian investor?
Yang paling kerap
terjadi adalah irasionalitas dalam menggunakan referensi. Kita tahu di dunia
ini banyak sekali pasar saham. Pasar buka selama 24 jam karena ada perbedaan
waktu di sejumlah negara. Dalam kaitan dengan bursa itu, sering kali investor
melihat fenomena di pasar tersebut dan kemudian melakukan prediksi terhadap
bursa efek di Jakarta.
Jadi, jika
katakanlah indeks Dow Jones di New York mengalami kenaikan atau penurunan, maka
kemudian diprediksi juga akan mengalami hal yang sama. Padahal, investor pada
tiap bursa tersebut berbeda. Yang terjadi adalah efek psikologis efek atau
euforia menyikapi fenomenal tertentu, mulai dari fenomenal ekonomi, sosial,
politik. Memang ada korelasinya, tetapi tidak bersifat fundamental.
Referensi yang juga
sering menyesatkan investor adalah ramalan-ramalan para analis saham. Misalnya
pada akhir tahun indeks harga saham diprediksi akan bertumbuh 20 persen. Ini
dikonotasikan sebagai hal positif. Lalu investor memborong berbagai saham
dengan harapan harganya meningkat juga sekitar 20 persen pada akhir tahun
nanti. Padahal, dalam realitasnya, kenaikan indeks 20 persen itu tidaklah
linier. Bisa saja mengalami penurunan lebih dulu baru kemudian naik kembali
atau juga sebaliknya.
Ada yang memang
bermaksud membeli saham dan memegangnya selama setahun tanpa peduli apakah
dalam kurun waktu setahun tersebut harga saham dimaksud naik atau turun. Namun,
di sisi lain, tidak sedikit yang membeli saham dengan tujuan trading belaka.
Referensi yang ada belum tentu cocok untuk segala jenis investor, karena
investasi memang bersifat spesifik, bergantung dari tujuan tiap investor.
Ramalan
Lebih jauh lagi,
referensi itu sering kali sebenarnya adalah hal-hal yang bersifat pengulangan.
Kembali ke soal prediksi kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), misalnya.
Jika tahun lalu tumbuh 20 persen, angka tersebut akan menjadi referensi untuk
pertumbuhan tahun ini. Paling diberikan deviasi 2-3 persen ke atas dan ke
bawah. Pertanyaannya, apakah ada rasionalitas di balik prediksi tersebut?
Sebagian iya. Namun, sebagian lainnya lebih bersifat intuisi, dugaan belaka.
Padahal, dalam jagat
investasi, ramalan tidak ada yang bersifat absolut. Lihat saja prediksi
berbagai analis saham di akhir tahun lalu tentang perkiraan IHSG pada tahun
2015. Belum beberapa bulan berjalan sudah banyak yang melakukan revisi terhadap
proyeksi yang dibuatnya. Kenapa demikian? Karena analis saham bukan juga
manusia biasa yang bisa keliru dan terkadang memang banyak juga kelirunya.
Konkretnya, menggunakan referensi tertentu dalam mengambil keputusan investasi
tidak boleh membabi buta. Sebaiknya dilakukan penyesuaian lagi, yang
disesuaikan dengan horizon investasi dan karakter personal setiap investor.
Irasionalitas yang
lain adalah dalam bentuk pengaruh kepercayaan dan prinsip personal dalam
berinvestasi. Ketika seorang investor hendak mengambil keputusan investasi,
selain mempertimbangkan faktor-faktor fundamental yang lazim, seperti kondisi
keuangan, prospek usaha dari emiten dan lain sebagainya, tidak jarang tiba-tiba
faktor subyektif. Maksudnya adalah, misalnya si investor mendapatkan informasi
bahwa dalam kepengurusan emiten dimaksud ada nama yang tidak disukainya. Hal
itu kemudian dijadikan salah satu faktor yang sering kali kemudian menjadi
dominan tatkala mengambil keputusan. Jelas ini irasional yang pada gilirannya
membuat investor kehilangan kesempatan.
Faktor keyakinan
personal yang juga banyak terjadi dalam pengambilan keputusan investasi
misalnya adalah ketika hendak membeli properti. Jika di dekat lokasi tersebut
ada kuburan, diyakini properti dimaksud tidak punya prospek. Pendeknya, sangat
banyak hal yang sulit dirasionalkan malah dijadikan pertimbangan dalam
berinvestasi. Namun, dalam konsep berinvestasi, tidak pernah ada faktor
keyakinan personal dan hal-hal berbau mistis untuk dijadikan variabel analisis
investasi.
Bentuk irasionalitas
lain yang juga sering mengemuka di pasar saham khususnya adalah ketika emiten
berganti pengurus. Kebanyakan investor beranggapan setiap terjadi pergantian
pengurus akan ada harapan baru bahwa kinerja pengurus yang baru akan lebih baik
dibandingkan dengan pengurus yang lama. Persepsi semacam ini bahkan terlihat
belakangan ini di mana banyak pengurus perusahaan-perusahaan besar berganti dan
kemudian berdampak pada naiknya harga saham perusahaan tersebut. Faktanya
apakah memang demikian adanya? Apakah pergantian pengurus perusahaan pasti akan
membuat kinerja perusahaan menjadi lebih baik? Jawabannya belum tentu. Apakah
investor sudah mengetahui langkah apa yang akan dilakukan oleh pengurus baru?
Dipastikan belum.
Kesimpulannya,
investor yang lebih banyak berhasil lazimnya adalah investor yang rasional.
Bukan berarti faktor-faktor spesial, seperti intuisi dan pengalaman, tidak
penting. Namun, semua itu harus ”di-screening” lagi secara rasional.
Elvyn G Masassya,
Koran Kompas